assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh , sugeng rawuh poro pamiarso engkang wilujeng ,sehat wal afiat ...... amin /disini saya heri siswanto mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan anda agama: Makalah Metodelogi Pemahaman Islam

Rabu, 17 Oktober 2012

Makalah Metodelogi Pemahaman Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pemikiran keislaman yang berkembang pada masa sekarang ini telah dilakukan melalui berbagai perspektif dan metodologi. Dimana setiap perspektif dan metode yang digunakan mempunyai ciri tersendiri disamping kelebihan dan kekurangan yang melekat pada perspektif dan metode tersebut tentunya. Mukti Ali menyatakan bahwa dalam mempelajari dan memahammi Islam terdapat 3 (tiga) cara yang jelas yakni naqli (tradisional), aqli (rasional) dan kasyfi (mistis). Ketiga pendekatan tersebut telah ada dalam pola pemikiran Rasulullah SAW dan terus dipergunakan oleh para ulama Islam setelah beliau wafat hingga saat ini. Ketiga metode tersebut dalam operasionalnya lebih dikenal dengan istilah pendekatan bayani, irfani dan burhani.
Tawaran pendekatan ini sengaja diarahkan pada upaya merekonstruksi pemahaman dalam wilayah baru yang belum ada teks hukumnya dengan menghargai tradisi secara proporsional sekaligus mengurangi kesan arogansi intelektual. Upaya ini dilakukan melalui penggabungan teori sistem dan teori aksi di dalam perangkat analisisnya.

Dalam rangka mencapai suatu intepretasi yang tepat dalam memahami agama dengan segala aspek yang terkandung di dalamnya diperlukan metode-meode yang dapat dipergunakan untuk mendapat pemahaman yang tepat. Islam yang diturunkan di Arab lahir dan berkembang seiring dengan adat budaya Arab. Hal ini memerlukan pengkajian yang komprehensif sebab sumber agama Islam yakni Al Qur’an dan Sunah berbahasa Arab. Sehingga untuk memahaminya wajib untuk memahami bahasa Arab.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    KEGUNAAN METODOLOGI

Sejak kedatangan Islam abad ke-13 hingga saat ini, pemahaman tentang ke-Islaman ummat Islam di Indonesia sangat variatif. Keadaan ini juga terjadi pada negara lain. Gejala seperti ini apakah memang sudah alami yang menjadi sebuah kenyataan untuk bisa diambil hikmahnya, ataukah diperlukan standart umum untuk bisa mengetahui keadaan yang variatif seperti ini. Sehingga sesuatu yang variatif ini tidak keluar dari ajaran yang tekandung dalam al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak akan keluar dari keabsahannya.

Adanya sejumlah orang yang pengetahuan tentang ke-Islamannya cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistemik. Karena orang tidak menerima Islam secara sistemik maka antara guru satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ketemu karena tidak sebuah silabus yang mengacu menjadi satu kesatuan.

Sebagai contoh, misalkan ada orang yang menguasi ilmu Fiqh tetapi tidak memahami ilmu-ilmu yang lain setiap ada masalah jawabannya selalu ilmu fiqh yang diberikan. Kalau kepada mereka tentang bagaimana cara mengatasi masalah pelacuran maka yang ada hanya bagaimana menghancurkan tempat pelacuran tersebut. Padahal tidak bisa mengatasi persoalan pelacuran menghancurkan tempatnya saja, karena dalam masalah itu tidak serta merta hanya masalah pelacuran tetapi ada masalah yang lauin yaitu ketenaga kerjaan, kesenjangan sosial, struktur sosial, sistem perekonomian dan sebagainya.

B.      BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM

Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat, sentosa dan damai.


Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian.
NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam.
MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata.

Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam memberi pengertian antara lain adalah :

Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) :
Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka bumi, dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah, satu kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik spritual maupun material.

Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat 208 :

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْاادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَافَّةَ وَلاَتَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai Orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu” Kata السـلم   yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam, makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu.

HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya satu segi, tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia.

ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. Peristilahan ini disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama pendirinya.

Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta.

C. AKIBAT YANG TIMBUL DARI PEMAHAMAN ISLAM
Perjalanan Islam samapi kini telah melampui kurun waktu lima belas abad dan dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai yang besar dan panjang. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar, berliku-liku dan bercabang-cabang. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah. Geraknyapun menjadi lamban.

Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang, idenya muncul dan nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi , pandangan hidup dan sikap politiknya. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik atau kemasyarakatan, demikian juga sebaliknya. Jika teori ini benar, maka kajian pemikiran Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam), sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan ketatanegaraan(politik) dan hukum, menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap. Dengan demikian untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya.

Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih kompleks hingga hari ini. Namun demikian, masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam dan untuk diri sendiri.

Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup, karena metode dan pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat teologis dan normatif. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah komprehensif.

D. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM
Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literaratur ke-islaman.
Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam, karya Ali Syariati dijumpai uraian singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup apabila kita memahami secara keseluruhan.
Ali Syariati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam
a.       Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain
b.      Dengan mempelajari Kitab suci Al-Qur’an dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya.
c.       Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah.
d.      Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain.
Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Secara akademis suatu perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Perbandingan menghendaki obyektifitas.
Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi, Ali Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat.

NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. Untuk memahami agama Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara :

1.      Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Qur’an dan hadits. Kekeliruan memahami Islam, karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur’an dan Al-Sunah, atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme, yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.
2.      Islam harus di pelajari dengan integral, tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Memahami Islam secara persial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
3.      Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
4.      Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat.

Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam secara menyeluruh. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan, apabila kita melihat Islam hanya dari satu segi saja, maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang multi faset (terdiri dari banyak segi), sekalipun kita melihatnya itu betul. Islam seharusnya dipahami secara bulat, yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif.
Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini banyak ahli sosiologi dianggap obyentif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Metode ini juga untuk memahami agama Islam, juga agama-agama lain, kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari ciri yang sama dari agama lain, yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan 4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.

Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Pertama metode Komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua, Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif, kritis dan seterusnya dengan metode teologis normatif.

Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. Hal ini didasarkan pada alasan, karena agama bersal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Tuhan Mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh dan militan pada Islam, sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Mukti Ali menyatakan bahwa dalam mempelajari dan memahammi Islam terdapat 3 (tiga) cara yang jelas yakni naqli (tradisional), aqli (rasional) dan kasyfi (mistis). Ketiga pendekatan tersebut telah ada dalam pola pemikiran Rasulullah SAW dan terus dipergunakan oleh para ulama Islam setelah beliau wafat hingga saat ini. Ketiga metode tersebut dalam operasionalnya lebih dikenal dengan istilah pendekatan bayani, irfani dan burhani. Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta.


DAFTAR PUSTAKA


Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, 2006, Jakarta: Amanah, Hlm. 147

Abuddin NT, Metodologi Studi Islam, 2009, Jakarta: Rajawali Pers,,hl

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar